Pertama, semoga tidak ada pihak-pihak yang men judge diri saya ini sebagai manusia alay lagi ya setelah membaca tulisan ini wkwk (semoga kata "wkwk" juga bukan salah satu ciri alay ya).
Sebelumnya, perkenakan diri dulu kali ya. Ya saya hanya seorang mahasiswa, setidaknya di saat saya menulis ini (02/07/2014). Seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer yang yaa pastinya pengetahuan tentang dunia luar sangat banyak belum saya ketahui, tentunya karena memang belum lulus hehe. Apalagi bicara politik, beuuh jauh banget kan dari dunia Ilmu Komputer. Jangankan dunia politik, dunia yang saya pelajari disini aja .. Kira-kira begitulah kalo mau liat latar belakang saya. Karena latar belakang itu, mohon dimaafkan jika dalam tulisan ini akan terdapat salah-salah penulisan yang mungkin terkait dunia politik dan lain-lainnya. Maafkan juga kalo misalkan tulisannya gak enak dibaca.
Tujuan tulisan ini mungkin sebagai sarana minta maaf dulu kepada bung Ernest ya. Saya meminta maaf apabila memang telah lancang dalam menanggapi tweet Anda ya. (kejadiannya akan saya jelaskan kemudian). Disini saya benar-benar tidak bermaksud untuk memperkeruh suasana yang sebenarnya juga sudah reda sih dan juga bukan untuk melampiaskan kekesalan atau ketidaksukaan ya. Toh kalau mau ditanya tentang sedikit insiden itu, saya tidak pernah kesal banget kok. Walaupun jujur saya menyimpan keanehan dalam hati, "kenapa gw harus dapet perlakuan kaya gini ya?".
Lalu tujuan selanjutnya ya untuk mengemukakan pendapat pribadi tentang hal ini. Pendapat ini murni untuk dijadikan sedikit saran bagi semua yang membaca ini pada umumnya dan bung Ernest pada khususnya, itu juga apabila Anda menerimanya. Mohon maaf lagi jika malah saran ini tidak bagus atau tidak layak dijadikan saran.
Kronologis
Saat itu saya ingat tiba-tiba melihat tweet berikut ini (bukan saya yang mencari sih, waktu itu diberitahu kakak saya) :
Di Metro lg ada berita deklarasi dukungan thd Prabowo. Di TV One ada berita dukungan thd Jokowi ga? pic.twitter.com/rfcjd9AGqd
— #HAPPINEST (@ernestprakasa) June 15, 2014
Ya saya bales lah begini :
Saya mengakui ada beberapa kesalahan sih. Satu, saya bukan follower tapi tiba2 nyamber aja gitu. Kenapa waktu itu reflek langsung nyamber? Bukan karena saya pendukung fanatik nomor satu juga atau bahkan TvOne loh ya, melainkan ya karena fakta lapangan yang saya tonton sendiri. Beberapa acara bincang-bincang di TvOne sendiri pernah saya lihat mengundang dua pihak antara tim Prabowo-Hatta maupun Jokowi-JK. Contoh acaranya itu ada yang judulnya kalau tidak salah "Negeri 1/2 Demokrasi" (Kamis malam) dan "Debat" (Senin malam).
Nih salah satu video Negeri 1/2 Demokrasi, walopun disini keliatan memang bung Adian agak dikekang pendapatnya. Tapi konteks saya kan mendatangkan kedua belah pihaknya ya.
Dari situ lah saya membalas tweet pertanyaan Anda. Mohon maaf juga jika padanan kata dalam kalimat "bang, situ sibuk bgt kali ampe jrg liat tv. Gw gak nonton tv tiap jam dan gak bandingin tv, tp bincang tvone sering berimbang" ya bisa ngebuat Anda kesal. Saya juga merasa ada kata-kata yang mungkin gak sopan disitu.
Kesalahan kedua, saya salah menafsirkan tweet Anda mungkin ya. Mungkin ada perbedaan antara "berita" dan "acara bincang-bincang". Nah dari situ, saya juga klarifikasi bahwa yang saya tekankan dan saya maksud ya acara bincang-bincang seperti tweet berikut :
Kemudian ini yang mungkin agak gak enak (bagi saya pribadi), Anda membalas begini :
#AlayMabokMecin RT @rifkidya: bang, situ sibuk bgt kali ampe jrg liat tv. bincang tvone sering berimbang
— #HAPPINEST (@ernestprakasa) June 15, 2014
Jujur, awalnya sih shock , kenapa tiba-tiba dibales begitu dah. Tapi selanjutnya sih selooo. Yang tambah gak enak ya banyaknya followers Anda yang nyerang saya hiks. Tapi gak apa lah ya, namanya juga dunia Twitter bebas berpendapat ya.
Nah sebenernya bukan cuma di dunia Twitter doang kan ya kita bebas berpendapat, begitu juga saya punya pendapat tentang hal ini.
Pendapat dan Klarifikasi
Sebelum masuk ke pendapat, kayanya penting nih untuk klarifikasi beberapa hal untuk kepentingan hiburan haha :
#1 Saya ngga alay
Jadi sedih juga sih dibilang alay. Walaupun sampe sekarang juga kayanya gak ada definisi dan karakteristik seseorang dibilang alay tuh gimana. Yaaa walaupun kalo ngeliat judul / header blog ini keliatan alay wkwk, tapi plesetan kata-kata gitu sah-sah aja kan. Mirip-mirip lah sama judul Tour Stand Up Anda Illucinati yang pastinya kan plesetan dari Illuminati kan hehe. Tapi sumpah dah, gak pernah kayanya saya foto bibir manyun-manyun atau mencot-mencot gitu hahaha. Jadi kalo indikator tingkat alay itu cuma dari hal foto bibir manyun sih ya Alhamdulillah saya berarti bukan alay.
#2 Saya gak pernah mabok mecin wkwk
Mabok minuman aja gak pernah apalagi mabok mecin dah haha. Kalo kecanduan chiki sih pernah pastinya, apalagi yang seumuran saya gitu pastinya zaman kecil suka banget beli makanan-makanan macem gitu haha
Oke, sebenernya ini inti dari tulisannya. Mari berpendapat secara baik. Saya membahasnya dari sisi balesan tweet Anda ya. Seperti yang sudah saya bilang kan kalo setiap orang bebas aja gitu berpendapat di dunia Twitter, layaknya balesan #AlayMabokMecin itu ke saya. Tapi toh saya juga sebelumnya mengemukakan pendapat dong ya bahwa dari acara TvOne yang saya tonton (Negeri 1/2 Demokrasi dan Debat) itu cukup berimbang dalam hal mendatangkan narasumber. Kita tidak bicara dalam konteks acara berita ya saat itu, jadi kalo misalkan memang terjadi miskomunikasi ternyata antara istilah "berita" dan acara "bincang" yasudahlah kita saling mengerti saja #respect.
Lalu, ini bukan masalah sakit hati atau gimana ya, karena kan sebelumnya saya sudah bilang kalo saya mah selooo / woles. Hanya saja saya ya merasa balesan kaya gitu seakan menggambarkan Anda yang kurang bisa menerima perbedaan pendapat orang lain gitu loh tanpa ada keinginan untuk mengetahui penyebabnya apa sih saya berbicara kaya gitu. Yang jadi aneh adalah, masa seorang Ernest Prakasa tidak berusaha mendengarkan pendapat orang lain. Kalaupun kita berbeda pilihan pun bukannya kita tetap sesama manusia yang bisa saling berdiskusi. Saya ngga mengharapkan diskusi lebar gitu, tapi bukannya bisa ya tweet balesannya mungkin jadi kalimat seperti "Ah masa?mana buktinya?". Kalau kaya gitu bukankah lebih enak dan adem, jadi ada iklim kaya diskusi gitu loh.
Terus kalo boleh mengambil salah satu strategi untuk memajukan Indonesia dr presiden pilihan Anda, Pak Jokowi yaitu Revolusi Mental, apakah sikap-sikap seakan tidak mau menerima pendapat orang lain itu salah satu langkah dalam merevolusi mental. Saya belum baca sih gimana sebenernya langkah-langkah revolusi mental ini, tapi kalo langsung mendengar revolusi mental pasti kan ada bayangan bahwa kita sebagai warga Indonesia haruslah mulai mengubah kebiasaan-kebiasaan lama kita yang buruk kan, apapun itu. Apakah sikap bersikeras seakan tidak menerima pendapat orang lain itu sejalan dengan revolusi mental? Ya saya tanyakan dahulu kepada Anda. Jika jawabannya iya, nampaknya menurut saya hal tersebut harus segera dimasukan sebagai salah satu revolusi mental. Jika jawabannya tidak, sudah sebaiknya kita semua menghindarkan diri dari sikap tidak menerima pendapat orang lain tersebut dan memang harus mulai melakukan revolusi mental secepat mungkin. Sekiranya sih segitu aja terkait pembahasan ini.
Kalau memang masih ada yang bertanya apa sih tujuan tulisan ini. Sekali lagi saya tegaskan bahwa ini bukan untuk memperkeruh suasana, bukan juga untuk kampanye hehe. Melainkan ya kalau saya pribadi seorang Muslim sih menganggap bahwa mengingatkan teman/saudara/keluarga kepada hal yang lebih baik itu nampaknya menjadi pahala sendiri bagi saya. Toh bung Ernest kan juga saudara saya setanah air kan? Menurut saya pribadi mengingatkan untuk tetap menghargai pendapat orang lain itu adalah hal yang baik. Toh kalau itu bukan hal yang baik, semoga saja tulisan ini membawa kebaikan-kebaikan lain yang dapat kita ambil bersama. Salam respect ya :D
![]() |
| diambil dari status @FaldoMaldini |
Salam dua jari perdamaian :D
-Rifki Dya Priambudi
Mahasiswa biasa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar