Jumat, 21 Februari 2014

The Dressing Room

Sebuah pertandingan sepakbola tak ubahnya bagai sebuah peperangan besar bagi para pesepakbola. Di belahan bumi manapun, dengan level apapun baik itu berupa level antar kampung (biasa kita sebut tarkam), level amatir maupun level liga profesional sekalipun pasti akan menganggap bahwa sebuah pertandingan tersebut adalah sebuah peperangan maha dahsyat dengan segala pertaruhan. Gengsi adalah kata utama nampaknya bagi siapapun untuk dapat memenangkan sebuah pertandingan sepakbola tersebut. Maka dengan cara apapun, sebuah pertandingan tersebut harus bisa dimenangkan. Namun tetap saja harus dengan cara paling sportif yang bisa dilakukan.

Kemenangan bisa didapatkan dengan aksi-aksi para pelakunya di lapangan tentunya. Setiap pemain, pelatih, maupun staf pelatih apapun bertanggung jawab atas kemenangan suatu pertandingan tim sepakbola yang dibelanya. Setiap subjek tersebut berperan besar untuk perannya masing-masing. Pemain adalah layaknya prajurit yang siap melakukan segala perintah dari pelatihnya. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, setiap perintah dan komando dari pelatih adalah suatu kewajiban bagi pemain. Taktik maupun strategi pelatih mutlak menjadi awal penentu kemenangan dan keberhasilan sebuah tim sepakbola. Jika racikan strategi pelatih tidak oke, maka penentu kemenangan tim tersebut hanya mengandalkan kematangan permainan setiap pemain atau bahkan keberuntungan pemain.

Di era sekarang mungkin bisa kita lihat bagaimana tim sebesar Manchester United seolah kehilangan sosok Sir Alex Ferguson sebagai juru kemudi handalnya. Sosok David Moyes butuh waktu untuk menemukan formasi dan strategi paling tepat untuk melanjutkan era keemasan permainan Manchester United di bawah arahan Ferguson. Selain dapat membangun tim dengan menerapkan pola latihan yang tepat, maka adalah kewajiban pelatih untuk bisa menguatkan mental pemain di kala pertandingan berlangsung. Hal ini tidak lepas dari setiap perintah dan "aksi" pelatih di ruang ganti pemain, YA The Dressing Room!

Mari kita lihat cuplikan video berikut

Sangat menarik tentunya untuk mengenang kembali kemenangan dramatis Liverpool atas Milan di Final Liga Champion tahun 2005 bagi para penggemar Liverpool. Setelah ketinggalan tiga gol di babak pertama lewat satu gol Maldini dan dua gol Hernan Crespo, ternyata Liverpool tidak pantang menyerah dengan menyamakan kedudukan hanya dalam waktu enam menit melalui gol Gerrard, Smicer dan Xabi Alonso. Selain kekuatan dan tekad pantang menyerah dari seluruh punggawa Liverpool, apakah kalian tahu rahasia lain bagaimana Liverpool dapat menyamakan kedudukan tersebut?
Mungkin jawabannya adalah ruang ganti pemain.. Mengapa??
Saat para pemain Liverpool mungkin sudah hampr kehilangan kepercayaan dirinya akibat sudah tertinggal tiga gol, maka disitulah peran pelatih kepala saat itu Rafael Benitez untuk kembali mengangkat mental tim. Mungkin ada beberapa versi tentang apa yang dikatakan Rafa (panggilan Rafael Benitez) pada para pemainnya di ruang ganti tersebut. Salah satunya seperti ini :
We have nothing to lose,' I said. 'If we can relax, we can get a goal. And if we get the first goal, we can come back into the game. We have to fight. We owe something to the supporters. Don't let your heads drop. We are Liverpool. You are playing for Liverpool. Don't forget that. You have to hold your heads high for the supporters. You cannot call yourselves Liverpool players with your heads down. We have worked so hard to be here, beaten so many good teams. Fight for forty-five minutes. If we score, we are in it. If you believe we can do it, we can do it.

'Give yourselves the chance to be heroes.

Disitulah peran pelatih menjadi sangat berarti, menunjukan optimisme, mengangkat kembali mental tim, mengingatkan kembali tujuan utama partai Final tersebut yaitu kemenangan. Perubahan taktik pun dilakukan saat berada di ruang ganti tersebut. Dan pada akhirnya Liverpool bisa menyamakan kedudukan, kemudian memenangkan pertandingan melalui adu pinalti. Itulah bukti bagaimana salah satu perubahan dapat terjadi di ruang ganti pemain. Semangat pemain meningkat kembali dan tentu saja diimbangi dengan implementasi perubahan taktik yang baik oleh para pemain di lapangan. Rafa sendiri pun menjelaskan bahwa pada akhirnya perubahan itu bukan hanya terjadi karena apa yang dia katakan, tetapi juga apa yang terjadi di lapangan pada babak kedua.

Keajaiban banyak dimulai dan terjadi di ruang ganti pemain. Jadi, sudahkah kita memulai mengganti strategi atau biasa kita sebut team talk saat bermain FM?? #eh

ruang ganti Manchester United di Old Trafford, tempat biasa Fergie melakukan hairdriyer treatment :p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar